Lifestyle, Sex Islami

3 Hal yang dilarang saat berhubungan suami isteri [jima’] dalam Islam

NOORMUSLIMA.COM- Berhubungan intim antara suami isteri yang seharusnya membuahkan pahala akan mengakibatkan dosa bila melanggar hukum Islam sebagaimana disunahkan Rasulullah. Berikut adalah 3 hal yang di larang saat berhubungan suami isteri atau jima dalam Islam.

1. Jima’ saat isteri dalam keadaan haid

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allâh kepadamu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah/2: 222)

2. Jima’ lewat jalan belakang (anal)

Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu. bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Dilaknat orang yang menyetubuhi wanita di duburnya”. (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai)

Dari Amru bin Syu’aib berkata bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Orang yang menyetubuhi wanita di duburnya sama dengan melakukan liwath (sodomi) kecil.. (HR Ahmad)

3. Jima’ dengan tidak menggunakan penutup/ telanjang

Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar. (HR Ibnu Majah) (17969)

Recommended

1 Comment

  • dedi 02/10/2013 at 20:01

    Benarkah dilarang bertelanjang ketika jima?
    Saya harap dilihat lagi kedudkan hadits untuk poin3 di atas,

    Seorang sahabat yang bernama Mu’awiyah bin Haidah Al-Qusyairy pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    “Ya Rasulullah, aurat kami manakah yang harus kami tutup dan manakah yang boleh kami buka?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    احْفَظْ عَوْرَتَكَ إِلَّا مِنْ زَوْجَتِكَ أَوْ مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ

    Artinya: “Tutuplah auratmu kecuali dari istrimu atau budak perempuanmu.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzy, dan Ibnu Majah, dan dihasankan oleh Syeikh Al-Albany)

    Reply

Leave a Comment