Lifestyle, Sex Islami

Dalam Islam, Bolehkah Melakukan Hubungan Intim Dengan Berbagai Gaya?

Oleh: Ustad Taryudi. Lc

 

NOORMUSLIMA.COM-  Itulah tipikal manusia, gemar mencari sensasi. Mencoba sesuatu yang baru. Sesekali sensasi yang tercipta oleh otak kreatif manusia terkadang melampui batas, sehingga sering terjadi sensasi yang mendapat apresiasi oleh sekelompok masyarakat, tetapi oleh kelompok yang lain sensasi itu malah dipandang tercela. Perbedaan penerimaan tersebut merupakan konsensus tingkat pengetahuan, wawasan, dan mora-litas setiap individu yang tentu juga tidak akan pernah sama. Maka, menjelmalah per-bedaan persepsi oleh ketidaksamaan latarbelakang tadi.

Di kemudian waktu, seiring datangnya Islam, sensasi yang kerap mengemuka itu dikawal secara baik oleh aturan syariat. Bila aturan yang ditetapkan tersebut menjadi acuan untuk memfilter setiap sensasi, insya Allah kita bakal aman-aman saja. Biasanya, sisi yang kerap melahirkan sensasi adalah masalah hubungan intim suami-isteri. Dan, dalam perspektif syariat sendiri hubungan intim bukan sesuatu yang tabu. Ini dibuk-tikan, dimana Al-Quran pada beberapa ayatnya membicarakan masalah seks dengan tata bahasa yang santun lagi mendidik. Antara lain:

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: haid itu adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid. Dan, janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang Allah perintahkan kepadamu. Sesung-guhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucian diri. (QS. Al-Baqarah ayat 222).

Isteri-isterimu seperti tanah tempat kamu bercocok-tanam. Maka, datangilah tanah tempat bercocok-tanammu bagaimana saja yang kamu kehendaki. Kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu dan bertakwalah kepada Allah. Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah ayat 223).

Jika pun Anda coba dalami pada disiplin ilmu Fikih, Anda akan temukan pem-bahasan tentang bab nikah yang membicarakan etika berhubungan intim antara suami-isteri. Itu bab berjudul: adab al-Jima‘. Seorang suami misalkan, perlu menyediakan waktu untuk mencumbui isteri dengan ciuman, pelukan, dan kata-kata romantis terlebih dahulu sebelum berhubungan badan dengan isteri. Demi membangkitkan gairah isteri. Seperti yang Rasulullah Saw. lakukan kepada isteri-isteri beliau.

Di dalam etika itu, termasuk dibahas seorang suami yang mengubah-ubah posisi tubuhnya saat berhubungan intim. Barangkali untuk menemukan sensasi, maka ia melakukan jima’ dari arah belakang, atau samping, atau dengan gaya yang lain yang lebih fenomenal. Pencarian sensasi dalam gaya hubungan intim itu tidak sama antara satu komunitas dengan komunitas yang lain.

Di masa Rasul Saw. dulu, masalah gaya ini pernah menjadi sesuatu yang kontroversial. Orang di Mekkah biasa melakukan hubungan intim dengan isteri mereka menggunakan berbagai gaya. Orang di Madinah tidak begitu, mereka hanya menggauli isteri dari arah depan. Sesudah orang Islam Mekkah berhijrah ke Madinah, salah seorang pemuda muslim Mekkah menikahi gadis muslimah Madinah. Ia pun menggauli isterinya dengan berbagai gaya, seperti umumnya orang-orang Mekkah. Isterinya yang dibesarkan di Madinah kontan menolak. Ia meyakini bahwa jika berjima’ dari arah belakang maka anak yang lahir hasil dari hubungan tersebut akan bermata juling. Apalagi dalam persepsi masyarakat Madinah sendiri hal itu dipercaya sebagai suatu aib. Bila ditelusuri ternyata keyakinan itu disebarkan oleh orang-orang Yahudi Madinah.

Satu riwayat dari Jabir bin Abdillah memaparkan secara transparan mengenai klaim yang dipopulerkan oleh orang Yahudi itu. Jabir berkata: “Orang-orang Yahudi mengatakan jika seorang suami menggauli kemaluan isteri dari arah belakang, maka anak yang lahir akan bermata juling“. Klaim Yahudi oleh Allah dibantah dengan menurunkan ayat ke-223 dari surat Al-Baqarah, yaitu: “Isteri-isterimu seperti tanah tempat kamu bercocok-tanam. Maka, datangilah tanah tempat bercocok-tanammu bagaimana saja yang kamu kehendaki“.

Problem menyangkut seorang suami yang berhubungan intim dengan isterinya itu melalui berbagai cara telah dijelaskan oleh Al-Quran. Kalimat: “Datangilah tempat bercocok-tanammu bagaimana saja yang kamu mau“, ini statemen luar biasa yang mementahkan pernyataan yang diajukan oleh Yahudi. Dengan gubahan sastra yang tinggi, sangat santun Al-Quran menghadirkan analogi hubungan intim antara suami-isteri itu sehingga daya pikir kita dengan sangat mudah pula mencernanya.

Jika kita cermati, benar-benar Allah Swt. memahami tabiat manusia yang bia-sanya akan cepat terjangkiti sifat jenuh dengan aktivitas atau suatu hal yang tidak berubah-ubah. Suami-isteri yang jika berhubungan intim hanya dengan gaya yang tidak pernah berganti. Barangkali pada satu tipikal orang hal itu dapat diterima tanpa ada per-masalahan apa-apa, tapi ada banyak orang yang kerap ingin berkreasi, mencoba hal-hal baru dalam hubungan biologis, karena tidak puas dengan satu gaya saja. Al-Quran me-ngakomodir tiap-tiap kecenderungan tersebut. Isterimu adalah ladangmu, silahkan ber-kreasi dalam mengolah ladang.

Untuk menguak ruang kefahaman kita lebih mendalam terhadap ayat ke-223 surat Al-Baqarah itu, Rasul Saw. bersabda, masih dalam hadits riwayat Jabir bin Abdillah di atas, Rasul menutup hadits ini dengan pernyataan tegas, yaitu: “Mau dari depan atau dari belakang boleh, asal di kemaluan isteri“. (Hadits Imam Al-Bukhari 154/8, dan Imam Muslim 156/4). Statemen Rasul pada finishing hadist ini bukan hanya memberikan sebuah penegasan tentang hukum, lebih dari itu tersedia ruang kebebasan berkreasi bagi setiap suami atau isteri ketika melakukan hubungan intim. Terserah de-ngan gaya apapun, asal yang menjadi objek suami adalah kemaluan isteri.

Dengan demikian kita telah bisa memahami melalui nash (teks) ayat dan hadits tadi bahwa syariat melegitimasi suami-isteri melakukan hubungan intim dengan cara apa pun dengan syarat yang sudah Rasulullah paparkan. Kemudian, setelah bahasan tekstual tadi kita beralih ke tataran konstektual. Disini kita akan dihadapkan pada satu realitas tentang hubungan suami-isteri yang lebih luas. Bukan sebatas urusan ranjang, tetapi tentang nilai-nilai yang mesti ditumbuh-suburkan dalam kehidupan berumahtang-ga, seperti sikap saling menghormati, saling menyayangi, saling memahami, dan me-ngerti hak serta kewajiban dua belah pihak sesuai tuntunan syariat serta kecenderungan individu yang tak bertentangan dengan ketentuan Islam.

Sensasi dalam berhubungan intim juga perlu dikomunikasikan oleh suami ke-pada isteri, atau sebaliknya. Bisa saja, ada keengganan salah satu pihak yang tidak me-nyukai fantasi yang berlebihan. Dan, perlu menyikapi secara arif pula bila salah satu pihak ingin merealisasikan fantasi-fantasi indahnya. Ini penting, karena setiap individu tumbuh dan dibesarkan oleh latarbelakang kehidupan yang berbeda. Bukankah, hubu-ngan intim merupakan salah satu bentuk dari pembuktian cinta kasih suami-isteri dalam mengayuh biduk rumah tangga, maka semailah cinta itu dengan basuhan takwa, ilmu, dan sikap bijaksana. Wallahu a’lam. [] (8599)

m4s0n501

Recommended

Leave a Comment